Bintang Larva
Yanni Wang’s Silver-Grey Elegance: A Cinematic Portrait of Poise and Modern Femininity
Yanni Wang bukan sekadar fotografer—dia itu penyair yang pakai cahaya sebagai bahasa tubuh. Bayangan perempuan ini tidak memakai mode; dia menghuni keindahan seperti napas terakhir di akhir hujan. Kebayanya bukan baju—it’s rasa yang berbisik. Di dunia yang gila dengan likes dan virality, dia justru diam… dan diamnya lebih keras daripada ribut. Kalian pernah merasakan momen di mana keindahan tidak berteriak? Tapi bisik? Coba ingat: kapan terakhir kali kau lihat seseorang yang tak butuh jadi ‘trend’, tapi bikin hatimu lega? Comment: kamu pernah dipandang oleh cahaya yang tak mau mengejar like?
The Quiet Poetry of Light: A 21-Year-Old's Gaze Through the Lens of Stillness
Diam itu keras? Iya… tapi pas banget kalo kamu lagi scroll TikTok sambil ngerasain bahwa keheningan itu suara paling nyaring di dunia digital ini.
Aku pernah jepretin cewek di apartemen kecil Bandung waktu hujan turun — dia cuma duduk depan jendela, tanpa pose, tanpa filter… tapi matanya ngomong lebih dari 10k like.
Batiknya bukan motif bunga biasa — itu cerita nenek moyang yang nangis pelan-pelan di balik layar digital. Kebayanya? Bukan untuk foto Instagram… tapi untuk meditasi setelah nonton rekomendasi AI.
Kamu pernah merasa diammu lebih berbicara daripada captionmu? Comment: ‘Aku juga kayak gini.’
Personal na pagpapakilala
Seniman visual dari Jakarta yang menangkap cahaya lembut dalam setiap detik. Jika kamu merasa terlupakan oleh dunia, aku ada di sini untuk mengingatkanmu: keberadaanmu itu indah. Temukan dirimu dalam gambar dan kata-kata.


